TEORI ONLINE Research and Training. Call : 021 - 9229 0445 or 0856 9752 3260

adversity quotient (AQ)

research-icon

Adversity Quotient (AQ)

Dirangkum oleh : Hendry

Abstract

Dengan IQ, manusia mampu menyatakan benar dan salah berdasarkan inteletual. Kita mampu menghitung, membuat konstruksi bangunan, menyusun program, dan sebagainya. Dengan EQ, manusia mampu mengendalikan amarah, memiliki rasa iba, kasih sayang, tanggung jawab, kerja sama, dan kesenian (estetika). Dengan adanya ini muncul sikap sabar, lemah lembut, ataupun sebaliknya. Dengan SQ, manusia membedakan mana yang baik dan yang buruk. Potensi ini sangat terkait dengan etika atau nilai-nilai moral, baik dan buruk, serta nilai-nilai keagamaan. Dengan AQ, manusia mampu menghadapi berbagai hambatan dan tantangan hidup. Dengan adanya ini muncul sikap tabah, tangguh, memiliki daya juang, dan kreatifitas.

 

Konsep ketahanmalangan (AQ) pertama kali dikembangkan oleh Paul G. Stoltz (1997, 2000). Kajian Stoltz ini didasarkan pada pemikirannya atas kajian-kajian kecerdasan yang berkembang saat ini. Menurut Paul Stoltz, IQ tidaklah cukup untuk mencapai kesuksesan. Sementara EQ sendiri tidak mempunyai standar pengukuran yang valid dan metode yang jelas untuk mempelajarinya. Maka, menurutnya, kecerdasan emosional tetap sulit dipahami. Menurut Stoltz, AQ mendasari seluruh kesuksesan yang diartikannya sebagai kemampuan menghadapi tantangan atau kemampuan mengatasi kesulitan.

AQ mempunyai tiga bentuk yaitu (1) AQ sebagai suatu kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua jenis kesuksesan, (2) merupakan suatu ukuran untuk mengetahui respon terhadap kesulitan, dan (3) merupakan serangkaian peralatan dasar yang memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki respon terhadap kesulitan. Agar kesuksesan menjadi nyata maka Stoltz berpendapat bahwa gabungan dari ketiga unsur di atas yaitu pengetahuan baru, tolak ukur, dan peralatan yang praktis merupakan sebuah kesatuan yang lengkap untuk memahami dan memperbaiki komponen dasar meraih sukses. Dikatakan juga bahwa AQ berakar pada bagaimana kita merasakan dan menghubungkan dengan tantangan-tantangan. Orang yang memiliki AQ lebih tinggi tidak menyalahkan pihak lain atas kemunduran yang terjadi dan mereka bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah (Stoltz, 2000).

Stoltz membagi tiga kelompok manusia yang diibaratkan sedang dalam perjalanan mendaki gunung yaitu pertama, high-AQ dinamakan Climbers, kelompok yang suka mencari tantangan. Yang kedua, low-AQ dinamakan Quitters, kelompok yang melarikan diri dari tantangan, dan yang ketiga AQ sedang/moderat (campers Quitter (yang menyerah). Para   quitter   adalah para pekerja yang  sekadar untuk bertahan hidup). Mereka ini gampang putus asa dan menyerah di tengah jalan. Camper  (berkemah di tengah  perjalanan) Para camper  lebih baik, karena  biasanya  mereka  berani melakukan pekerjaan yang berisiko, tetapi tetap mengambil  risiko yang  terukur dan aman.

Climber (pendaki yang mencapai  puncak). Para climber, yakni  mereka,  yang dengan segala keberaniannya menghadapi risiko, akan  menuntaskan pekerjaannya. Mereka mampu menikmati proses menuju keberhasilan, walau mereka tahu bahwa akan banyak rintangan dan kesulitan yang menghadang. Namun, di balik kesulitan itu ia akan mendapatkan banyak kemudahan (Stoltz, 2000).


Tidak banyak penelitian yang mendukung teori AQ ini. Penelitian mengenai ketahanmalangan (AQ) saat ini banyak didominasi oleh lembaga PEAK Learning yang dipimpin oleh Paul G. Stoltz. Penelitian mereka di beberapa perusahaan seperti perusahaan dalam berbagai bidang industri termasuk Abbot Labs, Kaibab National Forest, Boehringer Ingelheim, W.L. Gore & Associates (Pembuat Goe-Tex), Delloite & Touche LLP, Minessota Power, ADC Telecommunications, dan U.S West, Stoltz  sebagai tokoh AQ bersama rekan-rekannya yang lain, telah membuktikan bahwa mereka yang memiliki AQ lebih tinggi menikmati serangkian manfaat termasuk kinerja, produktifitas, kreatifitas, kesehatan, ketekunan, daya tahan, dan vitalitas yang lebih besar daripada rekan-rekan mereka yang AQ-nya rendah (Author. 2009. “ AQ Research”, http://www.peaklearning.com/global-resilience)

 


Stoltz, Paul.G. 2000. Keperawatan Jiwa. Edisi-5. Jakarta. EGC
Stolz. Paul G. 2000. Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. Jakarta : Grasindo
Stolzt, Paul G. 2003. Mengatasi Kesulitan di tempat kerja. Batam : Interaksara

2 Responses to adversity quotient (AQ)

  1. mirnaaf says:

    terimakasih .
    web ini sangat membantu tugas kuliah saya.
    semakin update ya web nya. ^o^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


8 × = 8

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

You might also likeclose