SELAMAT DATANG DI TEORI ONLINE. Call : 021 - 9229 0445 or 0856 9752 3260

Ciri Ilmu Pengetahuan

Ciri Ilmu Pengetahuan

oleh : Hendry

Melanjutnya pembahasan sebelumnya mengenai hakikat ilmu pengetahuan, maka selanjutnya akan dijelaskan mengenai ciri ilmu pengetahuan.

Surajio (2007) mengutip beberapa pendapat ahli mengenai ciri ilmu pengetahuan antara lain 1 :

Menurut The Liang Gie (1987), ilmu pengetahuan dicirikan :

  • Empiris, artinya pengetahuan diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan;
  • Sistematis, artinya berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan yang teratur
  • Objektif, artinya ilmu pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi;
  • Analitis, artinya pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya dan peranan dari bagian-bagian itu
  • Verifikatif, artinya dapat diperiksa kebenarannya oleh siapapun

Berdasarkan pendapat Daoed Joesoef (1987), pengertian ilmu mengacu pada tiga hal yaitu produk, proses dan masyarakat. Ilmu pengetahuan sebagai produk yaitu pengetahuan yang telah diketahui dan diakui kebenarannya oleh masyarakat ilmuwan. Pengetahuan ilmiah dalam hal ini terbatas pada kenyataan-kenyataan yang mengandung kemungkinan untuk disepakati dan terbuka untuk diteliti, diuji, dan dibantah oleh seseorang 2 .

Ilmu pengetahuan tidak bisa menjawab semua pertanyaan.

Ilmu memiliki keterbasan dan membatasi lingkup kajiannya pada batas pengalaman manusia. Hal ini menurut Jujun S. Suriasumantri (2003) karena fungsi ilmu itu sendiri dalam kehidupan manusia yaitu sebagai alat membantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari 3 .

Hasil ilmiah bersifat universal.

Ilmu mengasumsikan bahwa alam semesta ini, seperti namanya, sebuah sistem tunggal yang luas di mana aturan-aturan dasar di mana-mana sama. Pengetahuan yang diperoleh dari mempelajari salah satu bagian dari alam semesta ini berlaku untuk bagian lain.

Ide-ide ilmiah atau kesimpulan dapat berubah dan bersifat tentatif.

Ilmu dapat menerima revisi (hukum-hukum, teori, prinsip, standar, dan lainnya) melalui pengujian terus menerus dan evaluasi, peer review atau replikasi. Pada prinsipnya, teori apapun dapat berubah setelah upaya pembantahan dan teori-teori baru dapat menggantikan yang lama. Hal ini menyebabkan ilmu pengetahuan dapat mengatasi masalahnya sendiri.

Sains menuntut bukti kuat

Ilmu mengandalkan diverifikasi, terukur, bukti yang sah, yaitu, data yang akurat, pada setiap tahap proses ilmiah. Bukti-bukti dapat dikumpulkan oleh pengukuran dan hanya dengan indera kita, atau ekstensi dari indera kita (instrumen). Keputusan ilmiah atau evaluasi tidak dipengaruhi oleh perasaan manusia, pengalaman masa lalu atau keyakinan.

Pengembangan ilmu dan pengetahuan ilmiah yang tidak dipengaruhi oleh faktor manusia, seperti prasangka, bias, berpikir atau berharap angan, keyakinan pribadi atau prioritas atau preferensi, kebangsaan, jenis kelamin, asal etnis, usia, keyakinan politik, moral dan penilaian estetika dan pilihan atau agama.

Ilmu dibentuk oleh logika

Kehadiran data yang akurat tidak cukup bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Konsep-konsep ilmiah tidak muncul secara otomatis dari data atau dari jumlah analisis saja. Logika (pengetahuan) dan kreativitas diperlukan untuk membentuk mereka ke dalam hasil ilmiah.

Semua pertanyaan ilmiah harus sesuai dengan prinsip-prinsip logis penalaran-yaitu, untuk menguji validitas argumen dengan menerapkan kriteria tertentu inferensi, demonstrasi, dan rasional.

Beberapa ciri ilmu pengetahuan lain adalah 4 :

  • Sains adalah logis (menggunakan formula berdasarkan logika), wajar, dan rasional.
  • Ilmu membuat klaim yang terdefinisi dengan baik berdasarkan bukti terbaik yang tersedia.
  • Hipotesis ilmiah harus falsifable (sebab bila tidak falsifable berarti tidak bisa diperiksa kesalahan-kesalahannya, sehingga belum bisa dianggap sebagai sains)
  • Eksperimen ilmiah harus dapat diulang dalam kondisi yang sama.
  • Ilmu memandang kesenjangan yang tidak dapat dijelaskan dalam teori atau bukti dengan kecurigaan.
  • Ilmu membutuhkan perhatian baik dalam melakukan percobaan, dan dalam memeriksa dan mengevaluasi bukti (hal ini terkait dengan validitas dan reliabilitas)
  • Ilmu membutuhkan upaya objektivitas, baik pada kontrol variabel dan bias.
  • Sains tidak menerima kebetulan atau korelasi unlinked atau tidak terbukti sebagai bukti.
  • Parsimoni atau kesederhanaan : bahwa penjelasan yang cukup sederhana lebih disukai.
  • Ilmu menuntut penggunaan kejujuran dari metode ilmiah dan laporan jujur. Hal ini menyebabkan adanya istilah “ilmuwan boleh salah, tapi tidak boleh bohong”

Source :

  1. The Liang Gie. Dikutip dari buku Surajiyo. 2007. Filsafat ilmu dan perkembangannya di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara., p. 59
  2. Daoed Joesoef. Dikutip dari buku Surajiyo. 2007. Filsafat ilmu dan perkembangannya di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara., p. 59
  3. Jujun S. Suriasumantri. (2003). Filsafat Ilmu : sebuah pengantar populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. p : 91
  4. “Goals and Characteristics of Science”, dikutip dari http://www.unl.edu/rhames/courses/current/sciencegoals.htm. Diakses 24 Maret 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


4 × = 4

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

You might also likeclose
Creative Commons License
Articles published in teorionline by http://teorionline.net/ is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Based on a work at http://teorionline.net/.