Oleh Hendry

Pendahuluan

Isu paling krusial dalam konstruksi tes adalah validitas. Jika reliabilitas menyangkut isu-isu konsistensi, maka validitas mengakses akurasi test (Marnat, 2009:15). Menetapkan validitas sebuah test atau instrument test sangat sulit, terutama karena variabel-variabel psikologi biasanya adalah konsep-konsep abstrak, seperti inteligensi, kecemasan, dan kepribadian. Konsep-konsep ini tidak memiliki realitas konkret sehingga eksistensinya harus diinferensi melalui sarana yang tidak langsung.

Selain itu, konseptualisasi dan penelitian tentang konstrak mengalami perubahan seiring dengan berjalannya waktu sehingga mengharuskan bahwa validasi test harus terus menerus disempurnakan (G. Smith & McCarthy, 1995, dalam Groth-Marnat, 2009:15). Artikel ini akan menguraikan mengenai isu-isu penting mengenai validitas test yang disarikan dari berbagai referensi dan aplikasinya dalam dunia penelitian sekarang ini.

Validitas Konstruk

Groth-Marnat (2008) menjelaskan :

“Metode Contruct Validity dikembangkan sebagian untuk mengoreksi ketidak-adekuatan dan kesulitan yang dialami dengan pendekatan content dan pendekatan criterion. Bentuk-bentuk awal validitas isi terlalu banyak mengandalkan pada judgement subjektif, sementara validitas criterion terlalu restriktif dalam bekerja dengan ranah-ranah atau struktur konstrak-konstrak yang diukur. Validitas criterion memiliki kesulitan lain dalam arti bahwa sering kali tidak ada kesepakatan dalam menetapkan kritera luar yang adekuat”

Pendekatan dasar validitas konstrak adalah mengakses sejauh mana test yang dimaksud mengukur sebuah konstrak teoritis atau cirri-sifat. Asesmen ini melibatkan 3 langkah umum, yaitu : pertama, konstruktor tes harus melakukan analisis yang diteliti terhadap. Kedua, mempertimbangkan bagaimana hubungan sifat-ciri itu dengan variabel lain. Ketiga, perancang tes perlu menguji dulu apakah hubungan-hubungan dihipotesiskan benar-benar ada (Foster & Cone, 1995, dikutip oleh Groth-Marnat, 2009).

Analisis faktor sangat relevan untuk validasi konstak karena dapat dipakai untuk mengidentifikasi dan mengakses kekuatan relative berbagai cirri-sifat psikologis yang berbeda. Analisis faktor juga dapat dipakai dalam merancang tes untuk mengidentifikasi faktor atau faktor-faktor primer melalui serangkaian test yang berbeda. Dengan demikian, analisis faktor dapat digunakan untuk menyederhanakan sebuah tes atau lebih dengan mengurangi jumlah kategori menjadi beberapa faktor atau beberapa ciri-sfiat saja.

Metode lain yang digunakan dalam pengujian validitas konstrak adalah mengestimasi derajat konsistensi internal dengan mengkorelasikan sub-sub test tertentu dengan skor total test. Sebagai contoh, jika sebuah subtes di sebuah tes IQ secara keseluruhan atau IQ skala total, sub test itu seharusnya dieliminasi atau diubah dengan cara menaikkan korelasinya.

Metode terakhir untuk mencapai validitas konstruk adalah sebuah tes harus berkonvergensi atau berkorelasi tinggi dengan variabel-variabel yang secara teoritis serupa dengannya. Tes seharusnya tidak hanya menunjukkan validitas konvergen ini, tetapi juga mempunyai validitas diskriminatif, yang akan menunjukkan korelasi rendah atau negarif dengan variabel-variabel yang secara teoritis berbeda dengannya. Jadi, skor-skor test pada tes pemahaman bacaan seharusnya menunjukkan korelasi positif dengan kinerja dalam pelajaran bahasa dan korelasi negative dengan kinerja dalam pelajaran berhitung.

Validitas konsep atau concept validity menunjukkan seberapa baik hasil yang diperoleh dari pengukuran cocok dengan teori yang mendasari desain test. Hal ini dapat dinilai dari validitas konvergen dan validitas diskriminan (Sekaran, 2006). Validitas konvergen terpenuhi jika skor yang diperoleh dengan dua instrument berbeda yang mengukur konsep yang sama menunjukkan korelasi yang tinggi. Validitas diskriminan terpenuhi jika berdasarkan teori, dua variabel diprediksi tidak berkorelasi, dan skor yang diperoleh dengan mengukurnya benar-benar secara empiris membuktikan hal tersebut.

Terkait dengan validitas diskriminan dan konvergen, Groth-Marnat (2009) menjelaskan bahwa derajat sensitifivitas dan spesivititas yang ditunjukkan sebuah alat assessment dalam mengidentifikasi berbagai kategori yang berbeda. Sensitivitas mengacu pada persentase hal-hal yang benar-benar positif yang telah diidentifikasi dalam instrument, sedangkan spesifitas adalah persentase relative hal-hal yang benar-benar negative.

Validitas konstrak melibatkan pengetahuan teoritis tentang ciri-ciri atau kemampuan yang diukur, testing hipotesis, dan pernyataan-pernyataan tentang hubungan antara variabel test dengan jaringan variabel lain yang pernah diteliti (Smith, 2005). Dengan demikian, Groth-Marnat (2009) menyimpulkan bahwa validitas konstrak adalah sebuah proses terus-menerus yang hubungan-hubungan barunya selalu dapat diverifikasi dan diinvestigasi.

 

References :

Gary Growth – Marnat. 2009. Handbook of Psychological Assessment. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Sekaran, U. 2006. Metode Riset Bisnis. Jakarta : Salemba Empat

Penjelasan mengenai contruct validity juga dapat dilihat di http://www.socialresearchmethods.net/

 

Bacaan yang direkomendasikan

Messick, S. (1989). Meaning and values in test validation: The science and ethics of assessment. Educational Researcher, 18(2), 5-11.

Moss, Pamela A. (2007).Reconstructing Validity. Educational Researcher, Vol. 36, No. 8 (Nov., 2007), pp. 470-476

Sireci, Stephen G. (2007). On Validity Theory and Test Validation. Educational Researcher, Vol. 36, No. 8 (Nov., 2007), pp. 477-481

 

Construct Validity (Validitas Konsep)

2 thoughts on “Construct Validity (Validitas Konsep)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silahkan jawab Pertanyaan *