Dirangkum oleh Hendryadi

Abstract

kecerdasan emosi adalah bentuk kecerdasan yang berkaitan dengan sisi kehidupan emosi, seperti kemampuan untuk menghargai dan mengelola emosi diri dan orang lain, untuk memotivasi diri seseorang dan mengekang impuls, dan untuk mengatasi hubungan interpersonal secara efektif.

Sejarah
Manusia diciptakan dengan dianugerahi kelebihan dibanding makhluk lainnya, yaitu adanya cipta, rasa dan karsa. Dari ketiga kelebihan tadi masing-masing bisa dikembangkan ke dalam potensi-potensi. Potensi yang bersumber dari cipta, yaitu potensi intelektual atau intelectual quotient (IQ). Potensi dari rasa, yakni potensi emosional atau emosional quotinet (EQ) dan potensi spiritual (SQ). Sedangkan potensi yang bersumber dari karsa, adalah potensi ketahanmalangan atau adversity quotient (AQ) dan potensi vokasional quotient (VQ).

Konsep Kecerdasan Emosional – EQ mulai menjadi perhatian di tahun 1995 oleh Daniel Goleman disebut ‘Emotional Intelligence’. Awal Teori Kecerdasan Emosional pada awalnya dikembangkan pada 1970-an dan 80-an dengan karya dan tulisan-tulisan dari psikolog Howard Gardner (Harvard), Peter Salovey (Yale) dan John ‘Jack’ Mayer (New Hampshire).

Istilah kecerdasan emosi pertama kali berasal dari konsep kecerdasan sosial yang dikemukakan oleh Thordike pada tahun 1920 dengan membagi 3 bidang kecerdasan yaitu kecerdasan abstrak (seperti kemampuan memahami dan memanipulasi simbol verbal dan matematika), kecerdasan konkrit seperti kemampuan memahami dan memanipulasi objek, dan kecerdasan sosial seperti kemampuan berhubungan dengan orang lain.

Psikolog AS John Mayer dan Peter Salovey memberikan definisi formal pertama kecerdasan emosional pada tahun 1990. Publikasi mereka juga mengklaim bahwa ada kemungkinan untuk menilai dan mengukur kecerdasan emosional seseorang. Mayer dan Salovey percaya bahwa kecerdasan emosional adalah bagian dari kecerdasan sosial dan tentang kemampuan seseorang untuk: (1) merasakan emosi dalam diri sendiri dan orang lain; (2) mengintegrasikan emosi dalam pikiran; (3) memahami emosi dalam diri sendiri dan orang lain; dan (4) mengelola atau mengatur emosi dalam diri sendiri dan orang lain.

Kecerdasan sosial menurut Thordike yang dikutip Daniel Goleman (2002) adalah kemampuan untuk memahami dan mengatur orang lain untuk bertindak bijaksana dalam menjalin hubungan, meliputi kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Kecerdasan interprersonal adalah kecerdasan untuk kemampuan untuk memahami orang lain, sedangkan kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan mengelola diri sendiri (Mangkunegara, 2005).

Menurut Goleman (2001:512), kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenal perasaan diri sendiri dan orang lain untuk memotivasi diri sendiri dan mengelola emosi dengan baik dalam diri kita dan hubungan kita. Kemampuan ini saling melengkapi dan berbeda dengan kemampuan akademik murni, yaitu kemampuan kogniktif murni yang diukur dengan Intelectual Quetient (IQ). Sedangkan menurut Cooper dan Sawaf (1998), kecerdasan emosional adalah kemampuan mengindra, memahami dan dengan efektif menerapkan kekuatan dan ketajaman emosi sebagai sumber energi, informasi dan pengaruh. Salovely dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, serta menggunakan perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan.

Konsep EQ berpendapat bahwa IQ, atau kecerdasan konvensional, terlalu sempit, dan ada faktor lain yaitu Emotional Intelligence yang dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang. Dengan kata lain, kesuksesan membutuhkan lebih dari IQ (Intelligence Quotient), yang cenderung menjadi ukuran tradisional kecerdasan, mengabaikan perilaku penting dan elemen karakter.

Penelitian EQ

Beberapa penelitian mengenai EQ

  1. Elizabeth Stubbs Koman, Steven B. Wolff, (2008) “Emotional intelligence competencies in the team and team leader: A multi-level examination of the impact of emotional intelligence on team performance”, Journal of Management Development, Vol. 27 Iss: 1, pp.55 – 75
  2. Hsi-An Shih, Ely Susanto, (2010) “Conflict management styles, emotional intelligence, and job performance in public organizations”, International Journal of Conflict Management, Vol. 21 Iss: 2, pp.147 – 168
  3. Malcolm Higgs, (2004) “A study of the relationship between emotional intelligence and performance in UK call centres”, Journal of Managerial Psychology, Vol. 19 Iss: 4, pp.442 – 454
  4. Lee Huey Yiing, Kamarul Zaman Bin Ahmad, (2009) “The moderating effects of organizational culture on the relationships between leadership behaviour and organizational commitment and between organizational commitment and job satisfaction and performance”, Leadership & Organization Development Journal, Vol. 30 Iss: 1, pp.53 – 86
  5. Cheok San Lam, Eleanor R.E. O’Higgins, (2012) “Enhancing employee outcomes: The interrelated influences of managers’ emotional intelligence and leadership style”, Leadership & Organization Development Journal, Vol. 33 Iss: 2, pp.149 – 174
  6. Cavazotte, F., Moreno, V., & Hickmann, M. (2012). Effects of leader intelligence, personality and emotional intelligence on transformational leadership and managerial performance. The Leadership Quarterly, 23, 443-455.
  7. Farh, C. I., Seo, M., & Tesluk, P. E. (2012). Emotional Intelligence, teamwork effectiveness, and job performance: The moderating role of job context. Journal of Applied Psychology, 97(4), 890-900.

 

Review dan Implikasi Manajerial

Emotional Intelligence semakin relevan dengan pengembangan organisasi dan mengembangkan orang-orang, karena prinsip-prinsip EQ memberikan cara baru untuk memahami dan menilai perilaku orang, gaya manajemen, sikap, keterampilan interpersonal, dan potensi. Kecerdasan Emosional merupakan pertimbangan penting dalam perencanaan sumber daya manusia, profil pekerjaan, rekrutmen dan seleksi wawancara, pengembangan manajemen, hubungan pelanggan dan layanan pelanggan, dan lainnya.

Kritik

Meskipun demikian, kritik terhadap teori ini ternyata banyak dikemukakan para ahli. Seperti yang dipublikasikan oleh http://www.unh.edu pada link di bawah ini :

Is emotional intelligence the best predictor of success in life? An overview of the debate in the media, and scientific comments; from John D. Mayer

Have the originators of EI missed the point of their own work?: Part 1: The Problem A commentary by Joshua Freedman

Have the originators of EI missed the point of their own work: Part 2: What are the advantages of a more focused approach to EI? A response from John D. Mayer

Have the originators of EI missed the point of their own work: Part 3: What are the advantages of a more focused approach to EI? (Cont.)

Is Emotional Intelligence Old Wine in New Bottles? A conversation with Frank Landy

Can self-report measures contribute to the measurement of emotional intelligence? A conversation with Joseph Ciarrochi

Emotional Intelligence: Why use self-report measures at all? …with Joseph Ciarrochi and John Michela

Does the Systems Framework for Personality Psychology (SFPP) represent the next wave of emotional intelligence research?

Critical thinking about EI: Understanding the “Gee-Whiz” argument

Referensi

Cooper R K dan Sawaf. A.1998 : Executive EQ Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan dan Organisasi. Jakarta : Gramedia

Goleman, Daniel. 2001. Working White Emotional intelligence. (terjemahan Alex Tri Kantjono W). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, Daniel. 2002. Emotional Intelligence (terjemahan). Jakata : PT Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, Daniel., 2000. Kecerdasan Emosional : Mengapa EQ Lebih Penting Daripada IQ, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, Daniel, dkk. 2006. Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Mangkunegara, Anwar Prabu, 2005. Perilaku dan Budaya Organisasi, Bandung : Refika Aditama

Materi Terkait

The Emotional Competence Framework – a generic EQ competence framework produced by Daniel Goleman and CREI covering in summary: personal competence – self-awareness, self-regulation, self-motivation; social competence – social awareness, social skills

The Business Case for Emotional Intelligence – a paper by Dr Cary Cherniss featuring 19 referenced business and organizational case studies demonstrating how Emotional Intelligence contributes to corporate profit performance. The paper is an excellent tool which trainers, HR professionals and visionaries can use to help justify focus, development, assessment, etc., of EQ in organizations.

Guidelines for Promoting Emotional Intelligence in the Workplace – a paper chiefly constructed by Cary Cherniss and Daniel Goleman featuring 22 guidelines which represent the best current knowledge relating to the promotion of EQ in the workplace

Usefull Websites

  1. http://www.emotionaliq.org/
  2. http://www.businessballs.com/eq.htm
  3. http://www.journeytoexcellence.org.uk/resourcesandcpd/research/summaries/rsemotionalintelligence.asp
  4. http://www.unh.edu/emotional_intelligence/

 

Tagged on:     

2 thoughts on “Kecerdasan Emosional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silahkan jawab Pertanyaan *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

You might also likeclose