SELAMAT DATANG DI TEORI ONLINE. Call : 021 - 9229 0445 or 0856 9752 3260

Review Teori Motivasi Kebutuhan

Litelature Review

Review Teori Motivasi Kebutuhan : Teori Hierarki Maslow

Oleh Hendry

Abstract

Artikel ini adalah artikel pertama dari lima artikel yang akan menguraikan lima teori utama dari teori kebutuhan yaitu teori hierarki Maslow, ERG dari Alderfer, teori X dan Y dari McGregor, teori kebutuhan McClellannd, dan teori dua faktor Herzberg. Masing-masing pembahasan teori akan direview baik dari penjelasan teori itu sendiri, dukungan penelitian, dan kritik yang diajukan oleh para ahli.

Teori motivasi kebutuhan merupakan salah satu teori awal dari teori motivasi. Lima teori yang yang paling populer adalah teori hierarki Maslow, ERG dari Alderfer, teori X dan Y dari McGregor, teori kebutuhan McClellannd, dan teori dua faktor Herzberg.

Menurut Robbins (2007), tidak ada satupun teori-teori ini yang mendapatkan dukungan secara luas, meskipun yang terkuat dari teori ini kemungkinan adalah teori McClelland, terutama terkait dengan hubungan antara pencapaian dan produktivitas.

Teori Motivasi Hierarki Kebutuhan Maslow

Teori ini dikemukakan oleh Abraham Maslow, dan menyatakan bahwa motivasi didasarkan kebutuhan manusia secara bertingkat. Menurut Maslow, jenjang kebutuhan manusia sebagai karyawan dari yang terendah hingga yang tertinggi

Gambar 1. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow

Source : https://wikispaces.psu.edu/

Hipotesis yang diajukan Maslow dalam teori ini adalah “bahwa dalam setiap diri manusia terdapat lima kebutuhan dasar meliputi :

  1. Kebutuhan pertama, fisiologis (fisik) seperti rasa lapar, haus, seksual dan kebutuhan fisik lainnya
  2. Kebutuhan kedua, rasa aman yaitu kebutuhan untuk memperoleh perlindungan dari bahaya fisik dan emosional
  3. Kebutuhan ketiga, sosial yaitu kebutuhan rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan dan persahabatan
  4. Kebutuhan keempat, penghargaan yaitu faktor-faktor penghargaan internal seperti hormat diri, otonomi, dan pencapaian, serta faktor-faktor kebutuhan eksternal seperti status, pengakuan dan perhatian.
  5. Kelima, dan kebutuhan tertinggi adalah aktualisasi diri yaitu kebutuhan untuk menjadi seseorang sesuai kecakapannya meliputi : pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri.

Meski teori Maslow mendapat pengakuan luas, teori ini ternyata tidak diperkuat penelitian di lapangan. Maslow tidak memberikan bukti empiris, dan beberapa penelitian yang berusaha mengesahkan teori ini tidak menemukan pendukung yang kuat. (Robbins dan Judge, 2007). Dalam catatan kakinya, Robbins memberikan contoh penelitian Lawler dan Suttle (1972), Hall dan Nougaim (1968), Korman, Greenhaus, dan Badin (1977); Racuschenberger, Schmitt, dan Hunter (1980).

Jika Robbins dan Judge (2007) mereview penelitian di antara tahun 1970 – 1980, maka saya mencoba melakukan review terhadap penelitian di atas tahun 1990-an antara lain :

Dalam satu studi yang dilakukan oleh Tang (1997), dengan menggunakan analisis faktor eksploratori (EFA) dari skala tiga belas item menunjukkan ada dua tingkat penting dari kebutuhan di AS selama masa damai 1993-1994: kelangsungan hidup (fisiologis dan keamanan) dan psikologis (cinta, harga diri, dan aktualisasi diri). Pada tahun 1991, ukuran masa damai retrospektif didirikan dan dikumpulkan selama Perang Teluk Persia dan warga AS diminta untuk mengingat pentingnya kebutuhan dari tahun sebelumnya. Sekali lagi, hanya dua tingkat kebutuhan telah diidentifikasi, sehingga orang memiliki kemampuan dan kompetensi untuk mengingat dan memperkirakan pentingnya kebutuhan. Bagi warga di Timur Tengah (Mesir dan Arab Saudi), tiga tingkat kebutuhan yang berbeda terkait kepentingan dan kepuasan muncul selama tahun 1990 damai retrospektif. Ketiga tingkatan yang sama sekali berbeda dari orang-orang dari warga AS.

Stum, (2001) melalui paper yang berjudul “Maslow revisited: building the employee commitment pyramid”. Stum mengajukan lima tingkatan kebutuhan dengan merevisi hieararki kebutuhan Maslow menjadi :
  • safety/security ; keyakinan psikologis bahwa lingkungan yang aman dari ketakutan, intimidasi atau perlakuan antarpribadi yang mengancam.
  • rewards : kompensasi dan keuntungan yang diperoleh sebagai alasan seseorang untuk bekerja
  • affiliation, termasuk rasa memiliki dan ingin menjadi bagian dari team
  • growth : Karyawan ingin peluang untuk berubah, belajar dan memperoleh pengalaman baru pada pekerjaan
  • work/life harmony : Mirip dengan aktualisasi diri (pada model Maslow), dimana work/life harmony merupakan keinginan karyawan untuk mencapai potensi mereka baik pada pekerjaan dan aspek lain dari kehidupan mereka (2)

Penelitian Stun (2001) ini lebih didasarkan pada motivasi kerja dari sisi kebutuhan yang dikaitkan dengan komitmen organisasional.

Kritik lain dari catatan teori Maslow bahwa definisinya tentang aktualisasi diri sulit untuk menguji secara ilmiah. Penelitiannya pada aktualisasi diri juga didasarkan pada sampel yang sangat terbatas orang, termasuk orang yang dikenalnya serta biografi orang terkenal yang Maslow diyakini aktualisasi diri, seperti Albert Einstein dan Eleanor Roosevelt. Terlepas dari kritik-kritik ini, hierarki kebutuhan Maslow merupakan bagian dari pergeseran penting dalam psikologi. Daripada berfokus pada perilaku abnormal dan pengembangan, psikologi humanistik Maslow difokuskan pada pengembangan kesehatan individu. (4)

Referensi :

  1. Robbins, S.P, dan Judge. 2007. Perilaku Organisasi. Jakarta : Salemba Empat
  2. Stum, David L. (2001) “Maslow revisited: building the employee commitment pyramid”, Strategy & Leadership, Vol. 29 Iss: 4, pp.4 – 9
  3. https://en.wikipedia.org/wiki/Maslow%27s_hierarchy_of_needs
  4. http://psychology.about.com/od/theoriesofpersonality/a/hierarchyneeds.htm

Rekomendasi Bacaan :

Tang, T. L., & West, W. B. (1997). The importance of human needs during peacetime, retrospective peacetime, and the Persian Gulf War. International Journal of Stress Management, 4(1), 47–62.

Tang, T. L., & Ibrahim, A. H. (1998). Importance of human needs during retrospective peacetime and the Persian Gulf War: Mid-eastern employees. International Journal of Stress Management, 5(1), 25–37.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− 2 = 4

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

You might also likeclose