Perilaku Tidak Sopan yang semakin mengkhawatirkan

Kelakuan buruk pimpinan dan rekan di tempat kerja terjadi dalam konteks sivilitas semakin menjadi perhatian akhir-akhir ini. Tidak cuma di negara maju seperti Amerika, perilaku seperti ini juga dapat dengan mudah kita temui dalam ranah publik di Indonesia. Perilaku incivil di tempat kerja seperti berkurangnya penghargaan kepada sesama rekan (misalnya mengucapkan terimakasih atas bantuan sederhana yang diberikan), atau meminta tolong dengan kata-kata sopan kepada bawahan. Krisis incivility telah dikaitkan dengan sebuah benturan budaya, dimana orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda bertemu dalam satu komunitas atau organisasi. Adanya perbedaan pandangan mengenai norma-norma kesopanan sehingga banyak generasi kerja yang lebih tua sekarang menganggap generasi muda sebagai orang-orang yang kasar, tidak berbudaya dan tidak memiliki etika kerja (Leiter et al. 2010).

Source: http://pausefactory.org/course/managing-incivility-workplace/

Incivility merupakan salah satu bentuk perilaku menyimpang (deviant behavior). Workplace incivility dapat diartikan sebagai perilaku dengan intensitas rendah yang tidak memiliki maksud yang jelas untuk menyakiti, namun tetap melanggar norma sosial dan menyakiti perasaan karyawan yang ditargetkan (Andersson & Pearson, 1999:p.457). Incivility dapat diartikan sebagai ketidaksopanan. Bentuk dari perilaku ini dapat terselubung (covert) seperti pandangan yang merendahkan dan sinis, bertanya kemudian tidak mengindahkan jawabannya, dan lainnya. Sedangkan yang bersifat terbuka (overt) seperti berkata kasar, mengejek, menjatuhkan kredibilitas rekan di tempat umum, gossip, dan berbagai perilaku lainnya yang umum dilakukan baik oleh sesame rekan kerja atau dari atasan ke bawahan. 

Incivility tidak dapat dipungkiri terjadi…

Literatur pada ilmu manajemen menunjukkan bahwa ketidaksopanan merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri terjadi dalam organisasi modern dan hampir di semua industri. Pearson dan Porath, merupakan dua peneliti yang secara intensif melakukan kajian mengenai workplace incivility di tahun 2009 melaporkan bahwa 96% karyawan yang disurvey mengalami perilaku tidak sopan di tempat kerja, dan 99% menyatakan pernah menjadi saksi atas peristiwa ini. Pada tahun 2011, hasil survey mereka menyebutkan 98% karyawan mengalami perilaku tidak sopan, dan setengah dari responden mengatakan bahwa mereka diperlakukan dengan kasar setidaknya sekali seminggu. Lewis dan Malecka di tahun yang sama melaporkan bahwa hampir 85% responden yang merupakan perawat pernah mengalami perilaku incivil dalam 12 bulan terakhir. Sebelumnya, penelitian terhadap lebih dari 1000 pekerja layanan sipil A.S., Cortina, Magley, Williams, dan Langhout (2001) menemukan bahwa lebih dari 70% sampel mengalami perilaku tidak sopan ini. Penelitian lain menunjukkan bahwa 71 persen pegawai pengadilan, 75 persen karyawan universitas, 79 persen pegawai penegak hukum, dan 85 persen perawat mengalami ketidaksopanan di tempat kerja (Cortina dan Magley, 2009; Lewis dan Malecha, 2011)

Bagaimana di Indonesia ?

Kami melakukan serangkaian penelitian di tahun 2017 – 2018, diantaranya bekerjasama dengan Center for Indonesian Medical Students (CIMSA), dan menemukan incivility pada kelompok mahasiswa relatif rendah. Survey perilaku organisasi yang melibatkan 1000 responden di berbagai kota besar di Indonesia dengan periode survey dari bulan November 2017 sampai dengan Januari 2018 (hasil survey tidak dipublikasikan). Meski demikian hal yang menarik dari survey ini adalah laki-laki mengaku menjadi korban perilaku tidak sopan lebih tinggi dibandingkan responden wanita.

Menindaklanjuti penelitian dengan CIMSA, pertengahan tahun 2018, penulis kembali mengembangkan studi. Untuk memperluas cakupan penelitian, sebanyak 250 responden dari sektor bisnis di Jakarta di survey. Hasil penelitian memberikan kesimpulan bahwa workplace incivility memiliki hubungan positif dengan turnover intention, sedangkan gender ditemukan tidak memoderasi hubungan tersebut.

Menggunakan sampel yang berbeda, di akhir tahun 2018, penulis kembali melakukan penelitian berkolaborasi dengan dua peneliti lain dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman yaitu Prof. Selamat Riadi Sukrisno dan Dr. Irsan Tricahyadinata. Riset melibatkan 300 responden di dua wilayah (Jakarta dan Samarinda), dan teknik analisis menggunakan parsial least square multi-group analysis (PLS-MGA). Penelitian ini memperlihatkan bahwa ketidaksopanan di tempat kerja memiliki efek negatif yang signifikan pada self-efficacy, dan efek positif pada niat turnover. Self-efficacy memiliki efek positif yang signifikan terhadap turnover, dan mengkonfirmasi peran mediasi self-efficacy antara ketidaksopanan di tempat kerja dengan niat berpindah. Analisis koefisien menunjukkan kekuatan hubungan antar variabel bervariasi berdasarkan gender.

Akhirnya, ketidaksopanan di tempat kerja adalah masalah yang tak terhindarkan untuk setiap jenis organisasi, terlepas dari lokasinya di dunia. Penelitian lebih lanjut dapat memberikan bukti empiris baru, dan berkontribusi untuk menjadi informasi yang berguna bagi para manajer di Indonesia untuk dapat mengelola perilaku menyimpang di tempat kerja secara lebih efektif.

Penulis: Hendryadi

Dirangkum dari paper

Hendryadi, H., & Zannati, R. (2018). Hubungan workplace incivility dan turnover intention: efek moderasi gender. INOVASI, 14(2), 123-133. DOI http://dx.doi.org/10.29264/jinv.v14i2.4088

Riadi, S., H Hendryadi, Tricahyadinata. I. (2019).  Workplace Incivility, Self-Efficacy, And Turnover Intention Relationship Model: A Multi-Group Analysis. Russian Journal of Agricultural and Socio-Economic Sciences, 1(85), 358-368. DOI: 10.18551/rjoas.2019-01.44

Leave a Comment